Senin, 23 Mei 2011

Pengertian Paragraf

Paragraf adalah suatu bagian dari bab pada sebuah karangan atau karya ilmiah yang mana cara penulisannya harus dimulai dengan baris baru. Paragraf dikenal juga dengan nama lain alinea. Paragraf dibuat dengan membuat kata pertama pada baris pertama masuk ke dalam (geser ke sebelah kanan) beberapa ketukan atau spasi. Demikian pula dengan paragraf berikutnya mengikuti penyajian seperti paragraf pertama.
Syarat sebuah paragraph
Di setiap paragraf harus memuat dua bagian penting, yakni :
• Kalimat Pokok
Biasanya diletakkan pada awal paragraf, tetapi bisa juga diletakkan pada bagian tengah maupun akhir paragraf. Kalimat pokok adalah kalimat yang inti dari ide atau gagasan dari sebuah paragraf. Biasanya berisi suatu pernyataan yang nantinya akan dijelaskan lebih lanjut oleh kalimat lainnya dalam bentuk kalimat penjelas.

• Kalimat Penjelas
Kalimat penjelas adalah kalimat yang memberikan penjelasan tambahan atau detail rincian dari kalimat pokok suatu paragraf.
- Bagian-Bagian Suatu Paragraf yang Baik
Terdapat ide atau gagasan yang menarik dan diperlukan untuk merangkai keseluruhan tulisan.






Paragraf dapat dibedakan menjadi 5 jenis, yaitu sebagai berikut:

1. Paragraf Narasi
Paragraf narasi adalah paragraf yang menceritakan suatu peristiwa atau kejadian. Dalam karangan atau paragraf narasi terdapat alur cerita, tokoh, setting, dan konflik. Paragraf naratif tidak memiliki kalimat utama.
Contoh paragraf narasi adalah
Kemudian mobil meluncur kembali, Nyonya Marta tampak bersandar lesu. Tangannya dibalut dan terikat ke leher. Mobil berhenti di depan rumah. Lalu bawahan suaminya beserta istri-istri mereka pada keluar rumah menyongsong. Tuan Hasan memapah istrinya yang sakit. Sementara bawahan Tuan Hasan saling berlomba menyambut kedatangan Nyonya Marta.
2. Paragraf Deskripsi
Deskripsi adalah salah satu jenis karangan yang melukiskan suatu objek sesuai dengan keadaan yang sebenarnya sehingga pembaca dapat melihat, mendengar, merasakan, mencium secara imajinatif apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dicium oleh penulis tentang objek yang dimaksud.
Contoh paragraf deskriptif adalah
Gadis kecil itu. Ia terus memandangi lautan yang biru. Gulungan riak-riak kecil tak
membuatnya bergeming. Hembusan hawa pantai nan panas, tak membuat matanya
beralih dari laut. Air pantai terus menyapu lembut kulit kakinya. Deburan suara ombak mengisiki telinganya. Hari itu langit tak berawan. Ia terus memandangi laut. Laut
yang semakin biru sampai ambang cakrawala.Ia memandangi nelayan yang tengah
menepi. Memandangi pulau kecil nan jauh di seberang sana. Ia benci laut!
Gadis itu benci laut, karena di sanalah kedua orang tuanya meninggal.
3. Paragraf Eksposisi
Paragraf eksposisi adalah paragraph yang berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca.


Contoh Paragraf eksposisi adalah
Saat ini kegiatan Ekstrakurikuler dikenal sebagai kegiatan tambahan pelajaran sesuai pelajaran yang diinginkan dan tertera di daftar kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler biasanya berlangsung hingga sore hari dimana siswa dan siswi sudah tidak ada pelajaran wajib dalam kelas lagi dan kegiatan ini dimulai dari sepulang sekolah. Guna dari kegiatan ekstrakurikuler bisa dikaitkan dengan menambah nilai yang kurang dalam mata pelajaran yang diambil, pengembangan bakat siswa dan siswi, dan juga sebagai sarana permainan yang diminati seorang siswa dan siswi atau sarana bermain sambil belajar.
4. Paragraf Argumentasi
Paragraf Argumentasi adalah paragraf atau karangan yang membuktikan kebenaran tentang sesuatu. Pada akhir paragraf atau karangan, perlu disajikan kesimpulan. Kesimpulan ini yang membedakan argumentasi dari eksposisi.
Contoh paragraf Argumentasi adalah
Menyetop bola dengan dada dan kaki dapat ia lakukan secara sempurna. Tembakan kaki kanan dan kiri tepat arahnya dan keras. Sundulan kepalanya sering memperdayakan kiper lawan. Bola seolah-olah menurut kehendaknya. Larinya cepat bagaikan kijang. Lawan sukar mengambil bola dari kakinya. Operan bolanya tepat dan terarah. Amin benar-benar pemain bola jempolan

5. Paragraf Persuasi
Paragraph persuasi adalah paragraph yang bertujuan mempengaruhi pembaca untuk berbuat sesuatu.
Contoh paragraph persuasi adalah
Penggunaan pestisida dan pupuk kimia untuk tanaman dalam jangka waktu lama tidak lagi menyuburkan tanaman dan memberantas hama. Pestisida justru dapat mencemari lingkungan dan menjadikan tanah lebih keras sehingga perlu pengolahan dengan biaya yang tinggi. Oleh sebab itu, hindarilah penggunaan pestisida secara berlebihan.


Langkah-langkah Menulis Paragraf
Paragraf merupakan komposisi kalimat yang mengekspresikan satu ide pokok. Sebuah paragraf merupakan wacana yang komplit dan bisa berdiri sendiri namun juga bisa menjadi bagian dari tulisan yang lebih panjang-lebar, misalnya sebuah bab dari suatu buku.
Ujud paragraph
Paragraf ditulis menjorok ke dalam (disebut indentation) yang menandai awal suatu paragraf. Suatu tulisan yang terdiri atas beberapa halaman akan memiliki banyak indentasi. Indentasi ini membuat pembaca mudah mengenali dari mana masing-masing paragraf atau ide berawal. Dalam satu paragraf hanya ada satu indentasi karena sebuah paragraf hanya mengandung sebuah tiitk awal ide.
 Beda antara paragraf dan komposisi
Paragraf merupakan bagian dari suatu komposisi. Karena sebuah kelompok yang terdiri atas beberapa kalimat yang saling berkaitan disebut paragraf, maka kelompok paragraf yang saling berkaitan disebut komposisi. Sekelompok komposisi yang saling berkaitan, dengan demikian, membentuk bab-bab yang akhirnya tersusun menjadi buku. Bukulah yang merupakan unit paling besar. Buku berangkat dari beberapa pemikiran sehingga lebih rumit dibanding masing-masing bab yang ada di dalamnya. Tiap bab lebih rumit dan luas dibanding tiap paragraf yang membentuknya. Paragraf biasanya lebih pendek, kalah rumit isinya, dan yang diekspresikan dalam paragraf tentunya juga lebih sedikit dibanding yang ada dalam unit yang lebih besar seperti bab-bab suatu komposisi atau buku.
Perhatikan subdivisi-subdivisi yang diperlihatkan oleh gambar lingkaran berikut ini, mulai dari lingkaran-lingkaran yang paling kecil, dan akhirnya sampai pada lingkaran yang paling besar dan paling luar. Dari bagan tersebut tampak bagaimana yang berada di lingkaran lebih kecil sebenarnya juga menjadi bagian dari lingkaran yang lebih besar. Jadi, paragraf maupun buku dan komposisi sesungguhnya bisa dijadikan sub-divisi. Meskpun paragraf bisa berdiri sendiri namun paragraf kadang juga menjadi bagian dari suatu komposisi.
 Panjang Paragraf
Kalau ide yang mendasari seseorang membuat paragraf sangat sederhana, maka paragraf cenderung agak pendek. Sebaliknya, kalau ide kita rumit, maka paragraf yang kita buat terpaksa agak panjang. Ada baiknya mencermati prinsip-prinsip berikut ini: paragraf jangan sampai terlalu pendek sehingga ide yang hendak diungkapkan tidak dikembangkan atau tidak dijelaskan dengan baik. Tetapi paragraf juga sebaiknya tidak terlampau panjang hingga merambah ke topik-topik lain. Jika sampai seperti itu, sebaiknya dijadikan paragraf yang terpisah saja. Artinya, kita membuat sebuah paragraf baru.

Panjang paragraf berbeda-beda, tergantung pada ruang yang tersedia, tujuan penulisan, dan ide yang kita punya. Untuk surat kabar, misalnya, karena ruang yang tersedia mungkin sangat terbatas, paragraf-paragraf mesti dibuat pendek. Tujuan menulis juga mempengaruhi panjang paragraf kita. Novel-novel, buku-buku kuliah atau pelajaran, koran, majalah, dan lain-lain memiliki tujuan yang berbeda-beda. Panjang paragraf dalam tulisan-tulisan seperti itu juga bervariasi.

 Isi Paragraf
Semua paragraf punya satu tujuan: mengkomunikasikan sebuah ide dengan jelas dan efektif. Meskipun demikian, tidak semua paragraf disusun dengan cara yang sama. Cara mengkomunikasikan ide tergantung pada apa yang hendak diekspresikan. Meskipun tiap paragraf pada dasarnya berbeda, tapi ada kesamaannya. Faktor-faktor yang musti dipertimbangkan ketika menyusun paragraf antara lain:
 a. Paragraf harus berisi satu ide pokok.
Paragraf yang berisi lebih dari satu ide pokok akan cenderung berlebihan dan memusingkan. Maka, sebaiknya kita batasi saja. Membatasi paragraf ibarat membidik obyek dengan sebuah kamera kecil. Kita tidak perlu memasukkan semua paragraf yang ada ke dalam lensa bidik. Bahkan, keluarga kita sendiri tidak bisa kita ceritakan dalam satu paragraf. Terlalu banyak. Lebih baik kalau kita tetapkan salah satu saja yang akan kita ceritakan. Itupun tidak akan bisa kita ceritakan secara komplit. Paragraf sepanjang delapan hingga sembilan kalimat tidak akan cukup untuk menceritakan satu anggota keluarga kita. Ketika menulis satu paragraf, bayangkan membuat foto kecil tentang satu obyek kecil pula.
Seperti sebuah potret kecil, paragraf harus dibatasi pada satu subyek saja, meskipun subyek itu mungkin jauh lebih luas daripada sekedar satu aspek yang diperbincangkan di dalam paragraf tersebut. Sebagai gambaran, misalnya anda diminta menulis sesuatu tentang rumah anda dalam satu paragraf, anda tidak bisa menceritakan semua hal tentang rumah anda itu. Pokok pembicaraannya terlalu luas. Bahkan, satu paragraf tidak cukup untuk menceritakan ruang tamu yang ada di rumah yang anda ceritakan itu. Berarti, anda perlu menyeleksi suatu bagian dari ruangan itu, misalnya kursi kesayangan ayah atau tanaman indoor yang sangat eksotik favorit mama, atau mungkin piano kuno kenang-kenangan dari kakek buyut anda, atau bagaimana lubang-lubang di dinding bambu membuat ruang tamu penuh cahaya di pagi dan siang hari.

Contoh
Membatasi paragraf bukan hal yang wajib dilakukan, namun jika anda bisa memilih mana yang menarik atau penting, kemampuan miilih dan memilah ini akan sangat membantu menampilkan tulisan atau paragraf yang lebih spesifik. Semakin dalam pembahasan kita tentang sesuatu, semakin penting mempersempit atau membatasai cakupan bahasan.

Sekali lagi, prinsipnya seperti membidik obyek menggunakan sebuah kamera. Pertimbangan lainnya, kita harus bisa menyiasati bagaimana jika harus membidik obyek yang berdiri. Lalu, tiba-tiba kita berpikir bahwa yang paling menarik dari obyek itu adalah wajahnya. Ekspresi wajahnya kita anggap bagus dan unik, lalu akan kita abadikan dan tampilkan dengan lebih mendetil. Selanjutnya kita akan mendapati bahwa ternyata akan lebih menarik kalau bagian wajah itu kita close-up saja. Tapi, belum sampai benar-benar mengambil fotonya, kita melihat betapa yang paling menarik dari ekspresi wajah tersebut adalah ekspresi matanya yang tajam namun berbinar cemerlang. Akhirnya, kita memutuskan hanya akan meng-close-up matanya saja. Demikian halnya dengan menulis paragraf. Semakin kita bisa menampilkan ide yang lebih sempit dan spesifik, semakin sempit bahasan yang akan kita tulis. Jika cakupan bahasan sempit, maka perbincangan yang kita suguhkan kepada pembaca akan lebih dalam dan spesifik pula. Isi paragraf kita akan padat dan mendetil serta lebih khusus.
Dalam praktek, kita cenderung menulis paragraf dengan bahasan yang tidak sesempit itu. Kadang sulit untuk tidak menceritakan segala yang melintas di benak kita. Terlebih, jika kita hanya diminta menulis satu paragraf saja. Kalau kita bebas menulis, ide-ide yang bertumpuk bisa kita kembangan ke dalam beberapa atau bahkan banyak paragraf. Paragraf harus terfokus dan, yang pasti, dalam paragraf harus hanya ada satu ide pokok.

 b. Paragraf merupakan satu kesatuan.
Sebuah paragraf harus merupakan suatu kesatuan ide atau unity of idea. Hal ini berarti bahwa suatu paragraf merupakan unit tunggal yang jelas berisi satu ide atau tujuan utama. Meskipun paragraf merupakan bagian atau sub-bab dari tulisan yang lebih panjang-lebar atau bahkan sebuah buku tebal, paragraf harus merupakan kesatuan yang komplit, utuh, dan bisa berdiri sendiri. Dengan kata lain, paragraf yang kita tulis bisa menjadi bagian dari tulisan lain yang lebih besar namun seandainya tidakpun tulisan tersebut tetap merupakan satu wacana utuh yang jelas dan bisa dipahami pembaca.
Mengingat paragraf harus utuh dan lengkap, maka paragraf tidak boleh berujud penggalan atau fragmen. Jangan menulis paragraf yang membuat orang bertanya mana kelanjutannya atau merasa bingung karena tidak ada terusannya. Kalau paragraf berisi banyak ide dan ide-ide itu berlompatan, berarti paragraf kita tidak utuh dan tidak menyatu. Paragraf seperti ini akan membingungkan pembaca dan membuat mereka berpikir tentang berbagai hal sehingga tidak terfokus.

 c. Paragraf musti runtut dan nyambung.
Istilah runtut dan nyambung berkaitan erat. Runtut berarti bagian-bagian dalam kalimat harus diatur dan ditata dengan logis. Nyambung berarti hubungan antara bagian-bagian yang ada di dalam paragraf mulus, smooth. Ibaratnya, paragraf yang runtut seperti sebuah motor yang dirangkai dengan baik, bagian-bagiannya berada di tempat yang sesuai. Jika motor dirakit seperti itu, maka motor tersebut akan bisa berjalan dengan mulus. Oli dan bensin yang tepat akan membuat motor itu bisa berlari dengan lancar dan mesinnya tidak akan terbakar.

Agar bisa runtut, suatu paragraf musti memiliki sekuens atau urutan. Cara mengurutkan agar tulisan kita bisa bagus sangat dipengaruhi oleh topik yang akan kita bahas. Namun, biasanya orang mengurutkan dari kepala ke ujung kaki, atau dari atas ke bawah. Jarang yang menulis dengan urutan sebaliknya. Sebagaimana dalam masalah fotografi, biasanya orang mengurutkan dari kiri ke kanan. Para designer busana memulai karyanya dengan merancang atau menggambarnya lebih dulu, lalu mengakhirinya dengan menyeterika atau memamerkan karya yang sudah jadi. Resep masakan biasanya dimulai dengan bahan-bahan dan diakhiri dengan cara menyajikan. Urutan seperti ini akan membuat sesuatu lebih tertata dan mudah dilakukan. Hasilnya juga akan lebih prima. Demikian pula cara menulis paragraf. Urutan yang logis dan runtut serta berkesinambungan atau nyambung akan menjadikan paragraf kita lebih mudah dipahami dan padat -berisi.

 d. Paragraf musti dikembangkan dengan baik.
Yang dimaksud adalah bahwa paragraf harus tuntas. Paragraf tidak boleh berhenti di tengah-tengah atau diputus begitu saja. Dengan kata lain, paragraf harus komplit dan diselesaikan dengan tuntas. Jangan sampai ada satu bagian kecil terlewati. Kebanyakan paragraf terdiri atas tiga bagian: awal, tengah, dan akhir. Bagian-bagian ini sering disebut : pendahuluan (introduction), bahasan/diskusi (discussion) dan kesimpulan (conclusion). Pada bagian pendahuluan, yang biasanya berisi kalimat topik, kita harus bisa membuat pembaca mengenali apa yang akan dibahas dalam paragraf tersebut. Bagian bahasan atau diskusi berisi pembahasan topik yang kita ketengahkan. Bagian kesimpulan merupakan penutup paragraf.
Di bagian kesimpulan inilah kita mengakhiri tulisan dengan kesimpulan atas apa yang telah kita bahas dalam bagian diskusi. Bagian penutup ini melengkapi apa yang kita nyatakan di dalam kalimat topik atau pendahuluan. Bagian kesimpulan harus singkat dan padat karena merupakan pernyataan kembali atau penegasan dari seluruh bahasan dalam paragraf kita.
Agar paragraf kita bisa dikembangkqan dengan baik, proporsi bagian-bagian paragraf harus juga baik. Yang proporsional, bagian pendahuluan dan kesimpulan lebih pendek daripada bagian pembahasan atau diskusi. Bagian pembahasan harus dibuat lebih panjang-lebar karena bagian itulah yang berisi pembahasan ide yang sesungguhnya.
Meskipun demikian, seringkali kita cenderung mengisi bagian pendahuluan dengan tulisan panjang-lebar. Kita tergoda untuk mengatakan banyak hal di bagian pertama ini. Kalau kita simak, banyak tulisan yang mementingkan bagian pendahuluan ini karena penulis terburu-buru mengemukakan semuanya. Sedangkan, ibaratnya dalam musik, intro selalu cukup pendek saja. Demikian pula bagian kesimpulan, yang merupakan penegasan kembali apa yang telah kita perbincangkan. Jika bagian kesimpulan malah bertele-tele, pembaca akan bingung dan kehilangan fokus. Kita akan terlihat terlalu mendominasi dan kurang rela mengakhiri paragraf. Jika memang ada yang masih perlu kita katakan, sebaiknya kita lanjutkan saja dengan paragraf berikutnya alias ganti atau menambah paragraf.
Mengembangkan paragraf memang tidak mudah. Mengembangkan tidak berarti memanjang-manjangkan. Ada anggapan kalau paragraf kita panjang, berarti bagus karena semua bisa tersampaikan dengan lebih mendetil. Semakin banyak kalimat yang kita tulis tidak selalu berbarti bahwa tulisan kita semakin runtut, berisi, dan menarik. Yang penting bukan write more tetapi say more. Paragraf harus bergerak ke dalam, bukan keluar. Artinya, semakin dalam membahas topik, bukan semakin keluar dari pokok bahasan dan berbincang kesana-kemari. Kalau paragraf kita terlalu wordy dan bertele-tele kesana-sini, tulisan kita akan cenderung melenceng dari fokus dan akhirnya benar-benar keluar jalur. Kita mesti tetap mengacu pada topik atau pokok bahasan dan hanya topik itulah yang mustinya kita utak-utik, bukan malah membahas yang tidak relevan dengan topik.
Karenanya, sebagaimana telah dibahas sebelumnya, paragraf kita harus jelas, spesifik, dan komplit. Paragraf tidak akan padat-berisi kalau bahasan kita sangat umum. Karenanya, kita mesti menghindari hal-hal yang sangat umum. Tulislah satu ide dan kembangkan dengan mendetil dan spesifik serta pasti. Meskipun mungkin kita mengawali paragraf dengan kalimat topik yang agak umum, dalam pembahasan harus diarahkan sehingga lebih mendetil dan menyempit serta khusus. Pernyataan yang umum jangan sampai dikembangkan dengan kalimat-kalimat yang berisi pembahasan yang umum pula. Paragraf kita akan terlalu umum dan bahasannya pun akan sangat umum dan luas sehingga kita seolah membicarakan segala hal dengan mengemukakan segalanya. Padahal, paragraf kita harus berisi hal khusus dan disajikan dengan khusus pula. Ide pokok yang sempit harus kita kembangkan dengan menampilkan detil-detil khusus sehingga apa yang kita sampaikan menjadi semakin jelas dan bermakna, tidak kabur dan membingungkan.

Mengingat detil-detil sangat penting untuk mendukung bahasan kita, kita harus pandai-pandai memilih detil yang bisa membuat paragraf kita lebih mudah dipahami dan terfokus. Dengan kata lain, kita tidak bisa menampilkan terlalu banyak detil. Terlalu banyak detil akan memperlebar cakupan bahasan kita dan tidak efektif mendukung pembahasan. Detil yang pas dan akuratlah yang kita perlukan untuk mendukung paragraf kita.

RANGKUMAN

Paragraf yang akan kita tulis bakal jelas dan enak dibaca kalau kita mengikuti petunjuk rangkuman berikut ini. Pertama, ingatlah bahwa dalam menulis paragraf kita harus membuat inden atau memulai dengan menjorokkan ke dalam- dan bahwa inden paragraf hanya satu. Kedua, mesti selalu diingat bahwa paragraf tidak boleh terlalu pendek atau terlalu panjang. Idealnya, sebuah paragraf terdiri atas delapan hingga dua belas kalimat. Ketiga, dan yang paling penting, paragraf kita mesti ditata dan dikembangkan dengan cermat. Paragraf hanya terdiri atas satu ide utama atau pikiran pokok. Paragraf harus merupakan satu kesatuan, runtut, dan nyambung. Paragraf mesti dikembangkan dengan baik. Kalau kita mengikuti pedoman ini, niscaya paragraf kita akan jadi bagus.

0 komentar:

Poskan Komentar